Kamis, 27 Agustus 2009

HABIB JA'FAR BIN SYAIKHON ASSEGAF PASURUAN JAWA TIMUR



Waktu ta’lim di Jawa Timur saya diajak salah seorang guru saya menghadiri Haul Al alamah KH. Hamid di Pasuruan , Kh. Hamid merupakan murid dari seorang ulama min awliyaillah yang bernama Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf dari Pasuruan Jawa Timur. Habib ja’far bin syaikhon assegaf terkenal sebagai ulama yang memilki karomah dan memilki penghetahuan yang sangat luas tentang Alquran. Jika beliau sedang membaca alquran maka semua yang mendengarkan akan terkesima dengan bacaannya dan seakan akan hurup hurup yang keluar dari bacaan habib Ja’far berbentuk. Lantunan suaranya yang merdu ketika membacakan alquran membuat yang mendengarkannya tersentuh hatinya. Ini yang dirasakan oleh beberapa Ulama ulama yang pernah sholat berjamaah dengannya. Maka tak heran bila salah seorang Gurunya Habib Muhammad bin Ahmad muhdor dari Bondowoso memberi gelar dengan “Alquran berjalan”
Nama lengkap beliau Habib Ja’far bin Syaikhan bin Ali bin Hasyim bin Syeikh bin Muhammad bin Hasyim Assegaf. Lahir di kota Ghurfah, Hadramaut pada tahun 1298 H. Sejak kecil hinga remaja beliau berguru kepada para ulama ulama masyhur di Hadro maut . Sebagaimana kebanyakan dari para ulama ulama salafus soleh di hadromaut pada waktu itu yang hijrah dan berdakwah keberbagai pelosok , Habib ja’far pun mengikuti pendahulunya untuk hijrah dan berdakwah keluar dari Hadro maut Yaman. Dan beliau menetap pertama kali di kota Surabaya hingga akhirnya beliau menetap di Pasuruan serta mendirikan Majlis ta’lim dan Dzikir yang hingga sekarang masih di teruskan oleh salah seorang cucu beliau bernama Habib Taufiq bin Abdul qodir Assegaf.

Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf terkenal memiliki Karomah yang tampak dan saya pernah dengar dari guru saya bahwa Tasbih besar beliau yang selalu dililitkan di pundaknya berputar dengan sendirinya seperti ada yang menggerakkan. Bahkan pernah suatu ketika ada seorang Tamu yang tidak percaya dengan Hakekat Wali dan dia datang berkunjung ke rumah Habib Ja’far Assegaf dan minta di sediakan buah Korma dan tamu tersebut berpikir mana mungkin di Pasuruan ada Korma, Ketika itu juga Habib Ja’far membuka jendela menjulurkan tangannya keluar jendela dan ternyata di tangan nya sudah ada beberapa buah korma yang masih segar seperti baru di petik dari pohonnya. Bukan main kagetnya Tamu tersebut menyaksikan kejadian luar biasa tersebut. Beliau juga sangat memuliakan setiap tamu yang datang berkunjung kerumahnya dan beliau sendiri yang menuangkan minuman kedalam gelas para tamu , hal ini dilakukan karena memuliakan tamu adalah sebagian dari pada keimanan

Habib Ja’far bin Syaikhon as-Seggaf merupakan seorang ulama besar dan waliyullah di kota Pasuruan yang bertarekat Alawiyah, seperti diketahui, tarekat ini dinamakan alawy –selain disandarkan pada pendirinya, Imam Alawi al-Muhajir,- adalah tarekat yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai sadat yang berasal dari keturunan Nabi Muhammad SAW. Karena itu, pengikut Tarekat Alawiyyah kebanyakan adalah dari para Sayyid.

Sepanjang hidupnya Habib Jafar bin syaikhon assegaf di habiskan untuk berdakwah dan beribadah maka tak heran beliau sangat di cintai masyarakat kkhususnya Pasuruan yang mendapat berkah tersendiri oleh kehadiran Habib Ja’far assegaf , Hari senin Tanggal 07 Februari 1955 atau 14 Jumadil akhir 1374 Habib Ja’far bin syikhon Assegaf kembali ke Rahmatulloh dalam usia yang ke 76 tahun dan di makamkan di masjid jami’ Al anwar Pasuruan dan setiap tahun di bulan Jumadil akhir diadakan haul beliau yang dihadri oleh ribuan Muhibbin dari pelosok daerah.

Selasa, 24 Maret 2009

KH.ABDUL WAHAB CHASBULLOH



Tahun 2003 ketika saya menghadiri Haul akbar Maha guru Pon-pes darul hadist al Faqihiyyah malang Jawa timur, saya sempat berkunjung ke salah seorang kerabat istri saya di Tambak beras Jombang bernama Nyai fatimah bin Kh Usman Abidin yang suaminya bernama KH Hasib Hasbulloh yang akrab di panggil Gus Hasib. Ayahnya seorang Ulama besar di jawa timur dan menjadi salah satu penggerak dan pendiri Nahdlatul U’lama ( NU ). Beliau bernama Kh.Abdul Wahab Hasbulloh yang dilahirkan di desa tambak beras Jombang bulan maret tahun 1888 M . Sejak kecil Beliau menerima pelajaran dasar-dasar agama Islam dari ayahnya K.Hasbulloh , menginjak usia 13 tahun beliau melanjutkan ke Pondok pesantren Langitan Tuban, Pondok Mojosari Nganjuk, Pondok pesantren Tawang sari sepanjang kemudian melanjutkan ke pondok KH.Muhammad Kholil Bangkalan Madura setelah itu melanjutkan ke Pondok pesantren Tebuireng Jombang.

Hampir 14 tahun menuntut ilmu di tanah air , sekitar tahun 1921 M Kh.Abdul Wahab Hasbulloh Pergi ke tanah Suci Mekkah di samping menunaikan ibadah Haji beliau juga belajar disana selama hampir 5 tahun , Guru guru beliau di Mekkah adalah Kh.Mahfudz Termas yang juga berasal dari Indonesia dan Syech Al Yamani dari kedua guru inilah beliau mendapat ijazah istimewa karena kecerdasan yang beliau miliki.

Kyai Abdul Wahab kembali dari belajarnya di tanah suci Makkah. dan membantu mengajar di pesantren yang telah dirintis oleh ayahnya , kepedulian Kh.A wahab terhadap kondisi bangsa yang masih dijajah oleh bangsa Asing memaksa beliau untuk aktif terhadap gerakan kebangsaan melalui berdirinya “TASWIRUL AFKAR” bersama dengan Kh.Mas Mansyur dan sekarang menjadi Madrasah terbesar di kota Surabaya . Tahun 1916 dari Taswirul afkar ini beliau mendirikan madrasah “Nahdlatul Wathon” yang artinya kebangkitan tanah air. Pada mulanya madrasah ini di asuh oleh para ulama-ulama terkenal seperti KH.Mas mansyur lama kelamaan Madrasah tersebut menjadi tempat pengkaderan para remaja islam yang kemudian biasa disebut Jamiyyah Nasihin, Kh A Wahab juga mendirikan koperasi pedagang tahun 1918 yang bernama “Nahdaltut Tujjar” .

Memasuki tahun 1920 persaingan antara kaum Tradisionalis yang di wakili oleh Kh.A Wahab dan kaum Modernis yang di wakili oleh Kh.Ahmad dahlan ( pendiri Muhammadiyyah) dan Syeck Ahmad Sukarti ( Al irsyad ) semakin memanas , ketika kaum Modernis menyerang Praktek - praktek kaum Tradisionalis yang dianggapnya mengandung Kufarat dan Bid’ah. Kh.A Wahab dan Kh.Hasyim Asy’ari tidak sepenuhnya menolak saran kaum Modernis terutama mengenai modernisasi sistem pendidikan walaupun menolak meninggalkan Mazhab. Upaya mencari titik temu antara kaum tradisionalis dan modernis semakin sulit tatkala islam modernis semakin gencar melakukan pembaharuan melalui forum - forum perdebatan dan propaganda yang kontraversial adalah yang dilakukan oleh Faqih hasyim murid Haji Rosul dari sumatra barat di Surabaya.

Dan yang paling mengejutkan adalah mundurnya salah seorang Guru Nahdlatul Wathon yaitu Kh Mas Mansyur ikut bergabung dengan Muhammadiyah. Sungguhpun demikian Tokoh ulama tradisionalis tidak patah semangat , Kh A Wahab melobi beberapa Ulama -ulama untuk membentuk gerakan yang mewakili kaum Tradisionalis mulanya usaha Kh.A wahab di tolak oleh Kh.Hasyim Asy’ari karena khawatir akan memperuncing perselisihan yang akan mengakibatkan terjadinya perpecahan dikalangan umat Islam. Akhirnya Kh Hasyim Asy’ari berkonsultasi dengan gurunya KH.Muhammad Kholil bangkalan madura tentang Usulan para ulama yang mengawakili kalangan Tradisionalis untuk membentuk sebuah Jamiyyah. Lalu Kh Muhammad Kholil memberikan muridnya Kh Hasyim Asy”ari sebuah tongkat yang merupakan suatu Isyarat bahwa Gurunya merestui Usulan tersebut . Akhirnya tanggal 31 januari 1926 bertepatan dengan 16 Rajab 1334 H di bentuklah sebuah Jamiyyah yang di beri nama NAHDLATUL OELAMA ( NO ) atau Nahdlatul U’lama ( NU ) dalam ejaan yang telah di sempurnakan. Turut hadir dalam pertemuan tersebut tokoh tokoh ulama yang mewakili kaum Tradisionalis diantaranya adalah Kh.Hasyim Asy’ari, KH.A Wahab Hasbulloh, Kh.Bisri Sansuri(jomabang), Kh.Ridwan Abdulloh(Surabaya), Kh.Asnawi( Kudus), Kh.Ma’sum (lasem), Kh Nawawi (pasuruan), Kh.Nahrowi ( malang), Kh.Abdul Aziz (Surabaya) dll.

Pertemuan yang dilakukan di rumah Kh.A Wahab Hasbullah mengasilkan 3 keputusan penting.

1. Mengutus Delagasi untuk menemui Raja Sa’ud di Mekkah untuk menghormati dan menghargai kebebasan melakukan peribadatan kaum Tradisionalis di Indonesia dan usul tersebut diterima oleh Raja Sa’ud.

2. Membentuk Sebuah Jamiyyah sebagai wadah persatuan para Ulama dalam tugasnya memimpin umat menuju Izzatul Islam wal muslimin. Jamiyyah tersebut di beri nama Nahdlatul u’lama ( NU ) yang tujan utamanya adalah terwujudnya masyarakat islam yang beraqidah Ahlus sunnah wal jama’ah.

3. Semangat Nasionalisme dan kegamaan terhadap politik Hindia Belanda yang membatasi kebebasan umat Islam Indonesai melakukan ibadah Haji. Dan semangat melestarikan Trasidi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik ( al muhafadzah ‘ala qadim al salih wa al akhdzu bil jadid al aslah) . Hal ini yang telah di wariskan oleh para Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di tanah air tanpa menimbulkan gejolak.

Kiprah perjuangan KH.A Wahab hasbulloh banyak sekali mewarnai perjalanan NU dari masa ke masa. Keputusan keputusan penting yang diambil NU mewarnai peran Kh.A.Wahab Hasbullah dalam percaturan politik di tanah air. Pada hari Rabu tanggal 29 Desember 1971 KH.A Wahab Hasbulloh meninggal dunia dan dimakamkan di komplek psantren Tambak beras Jombang Jawa timur.